Posted on

Guru Bukanlah Dewa, Mereka Juga Manusia Biasa II

54596_399905166763654_1920810115_o

Ini adalah coretan saya dan mungkin menjadi alasan mengapa saya menjadi liar. Di lingkungan rumah, saya di support oleh kedua orang tua saya. Apalagi bapak saya. Beliau yang menjadi panutan saya dan paling berpengaruh pada pola pikir saya. Tak heran saya mengagumi beliau.

Saya menjadi brutal mungkin karena faktor lingkungan, faktor keluarga, dan lain-lain. Akan tetapi yang menurut saya paling berpengaruh bagi saya adalah SEKOLAH. Sekolah di desa-desa tempat kami berada melakukan murid dengan sewenang-wenang. Semua kisah ganjil ini terjadi pada sekolah saya yang ke-2 di SMA ini. Saya kelas 10 di SMA N 1 Waled dan kelas 11 di SMAN Babakan, Cirebon – Jawa Barat. Nah, di SMAN babakan itu saya mendapatkan beberapa keganjilan. Mulai dari peraturan yang tidak logis, guru-guru melakukan murid nakal dengan sewenang-wenangnya dengan alasan mendidik murid yang sejatinya kearah yang lebih baik, dan lain-lain.

Di tempat ini saya menemukan keganjilan yang bisa di bilang sangat kontroversial dimana guru tidak merasa mempunyai kewajiban untuk mendidik murid.Saya perah mendengar pidato seorang kepala sekolah yang isinya seperti ini “murid lah yang membutuhkan guru! jadi murid lah yang mencari guru”.

Loh bukannya murid yang punya hak untuk menuntut ilmu dan guru mempunyai kewajiban untuk mengajar muridnya?. Dengan isi pidato tersebut, banyak pemakan gaji buta (guru sekolah ini) yang memanfaatkan kepolosan muridnya. Sang pemakan gaji buta menjadi jarang masuk kelas, apalagi kalau jam terakhir sebelum istirahat. Mereka seakan-akan lupa akan kewajibannya.

Dan anehnya kalau ada KM yang memanggil guru itu, seolah-olah guru itu merasa dibutuhkan..

Ada salah satu teman saya yang pindahan dari SMAN 2 Surakarta. Dia bilang kepada saya “sekolah di sini aneh! kalau di Solo itu guru paling lambat masuk 5 menit. Kalau lebih dari itu, dia meminta maaf”. Jadi menurut penuturan teman saya itu, kalau di kota (ngga semua kota) guru-gurunya merasa mempunyai kewajiban untuk mengajar. Katanya disana gurunya disiplin, dan selalu berangkat ke sekolah.

Kalau di desa (rata-rata) guru dengan sewenang-wenang, “mau berangkat mau tidak, toh bukan saya yang butuh murid”. Jadi seperti itulah gambaran pola pikir mereka.

Ini bukan bualan belaka. Mungkin bagi murid baik-baik tidak terlalu bepengaruh. Bagaimana dengan murid nakal? Apakah murid nakal selalu di diskriminasi seakan-akan tidak mempunyai hak untuk belajar?

Sadarlah wahai pemakan gaji buta!!! Kami bukanlah kerbau, kami juga mempunyai hak untuk pintar! Ajarilah kami seperti kalian mengajari anak kalian! Pahamilah karakter kami, dan didiklah kami dengan perlakuan yang baik dan terkesan lembut! Anda lembut, tentu kami juga akan lebih lembut!

Artikel terkait:

Guru Bukanlah Dewa, Mereka Juga Manusia Biasa I
Guru Bukanlah Dewa, Mereka Juga Manusia Biasa III

Advertisements

One response to “Guru Bukanlah Dewa, Mereka Juga Manusia Biasa II

  1. mysukmana ⋅

    oke deh ane komenk biar situnya laris manis…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s