Posted on

Guru Bukanlah Dewa, Mereka Juga Manusia Biasa III

54596_399905166763654_1920810115_o

Ini adalah artikel lanjutan dari serial Guru Bukanlah Dewa, Mereka Juga Manusia Biasa part I & II.
Pada artikel kali ini kita akan membahas kelakuan guru-guru dalam topik KORUPSI.

Korupsi seakan merajalela di negara kita ini. Dimanapun kita menemukan korupsi. Di perusahaan, di tempat PNS bekerja, maupun di sekolah (swasta maupun negeri). Tapi kali ini kita akan membahasnya di sekolah.

Kelakuan para guru di zaman ini sudah semakin menggila. Banyak sekali pembayaran-pembayaran yang tidak penting dengan pembayaran yang tergolong tidak murah. Contohnya pembangunan WC. Dulu ketika saya masih kelas 1 SMA, semua siswa diminta biaya dari sekolah sebanyak Rp. 150.000. Tergolong tidak sedikit ya?

Kelas 1, 2 maupun kelas 3 dipintai semua, tak pandang bulu dari kalangan orang miskin ataupun kaya.

Ada salah satu teman saya tidak mampu membayar, ganjarannya dia tidak dapat mengikuti ulangan kenaikan kelas. Sungguh aneh, hanya karena tidak dapat membayar uang WC, dia tidak dapat mengikuti ulangan kenaikan kelas. Padahal dia tergolong orang yang tidak mampu. Mau bagaimanapun orang yang tidak mampu susah untuk mendapatkan keadilan di Indonesia, seperti pepatah “yang kuat memimpin, yang lemah tertindas”.

Saya tidak tega melihat teman yang diperlakukan seperti itu. Contohnya ada teman saya lagi yang berasal dari kalangan tidak mampu juga. Dia kalau di sekolah selalu tidak pernah terpandang dan seperti di lecehkan oleh guru-guru. Anehnya ketika ada teman yang kuat dari segi ekonominya, dia begitu dipandang dan di hormati. Kalau di gambarkan pemikiran guru ini, mereka seperti berbicara “kalau murid yang miskin kita didik, ya keuntungan yang diperoleh mungkin lebih sedikit dibanding keuntungan yang diperoleh dengan murid yang mampu”.

Lanjut ke biaya pembangunan WC yang tergolong “elit” itu. Dengan biaya Rp. 150.000, kami mengharapkan WC yang sepadan dengan uang yang kami keluarkan.

Hasil matematika saya dan beberapa teman: Jumlah total murid di sekolah “A” sebanyak 753 siswa (terdiri dari 7 ruangan kelas dan 3 tingkatan (kelas 1, 2, dan 3). Dan 1 ruangan kelas terdapat 35 murid) . Jadi dana itu kalau dikalikan semuan totalnya adalah Rp. 150.000 x 753 = Rp. 112.950.000. WAW!! Jumlah yang fantastis bukan?

Lalu setelah pembangunan WC itu selesai, kami sangat kecewa. Mungkin harapan kami terlalu tinggi saat itu.

Lahan untuk WC tersebut sekitar 3m x 5m. Dengan jumlah WC 8. Total biaya yang kami prediksi dari biaya pekerja, jumlah semen, dll sekitar Rp. 80 juta-an. Nah, sisa dari uang yang lain dikemanakan???

Tidak perlu dipungkiri, kebanyakan PNS yang kaya itu rata-rata mendapat uang haram, besar maupun kecil. Pernah saya baca di suatu artikel “Seorang PNS itu tidak bisa memiliki Rumah mewah, kecuali mempunyai usaha sampingan”.

Dan anehnya, dulu waktu saya masih SMP, saya mempunyai teman yang mempunyai orang tua sebagai guru. Dulu saya sering main kerumahnya, dan rumahnya tergolong standar. Sampai akhirnya naik ke bangku SMA, orang tua dari teman saya itu menjadi kepala sekolah di sekolah ternama. Lalu kelas 2 SMA saya pindah ke sekolah yang di kepalai oleh orang tua teman saya itu, dan selepas pulang sekolah saya main kerumah teman saya lagi.

Astaghfirullah, rumahnya yang sekarang mewah tenan. Kalau diprediksi, biaya pembangunan rumah tersebut lebih dari 1M. Ada apa gerangan?

Memang kita tidak perlu pukul rata semua PNS seperti itu, apalagi guru yang membimbing kita. Mungkin ada yang korupsi, ada juga yang tidak.

Tapi coba kita bayangkan seperti ini, misalnya si A seorang guru dan teman si A ini seorang guru juga, sebut saja A dan B. Mereka telah mengajar di SMA N 1 Tadnong selama 3 tahun. Akan tetapi selama 3 tahun itu Si B sudah naik haji dan membeli motor lebih dulu dari si A. Padahal si A sudah berusaha hemat dan rajin. Pasti suatu saat si A iri kepada temannya (namanya manusia normal, pasti ada perasaan iri kepada manusia lain). Dan lama-kelamaan kelakuan si B akan ditiru oleh si A karena rasa ingin memiliki tersebut. Jadilah sekolah ladang korupsi.

============================================================

Ada lagi pembayaran Dansos (dana sosial) yang menjadi ladang korupsi selanjutnya (mungkin di beberapa sekolah tidak dikorupsikan). Biaya Dana Sosial tiap minggunya sebesar Rp. 1500 dan dipungut pada hari Jumat.

Begini hasil matematika saya dengan teman saya:
Biaya dansos (wajib) dipungut Rp. 1500 per murid. Jumlah total murid di sekolah “A” sebanyak 753 siswa (terdiri dari 7 ruangan kelas dan 3 tingkatan (kelas 1, 2, dan 3). Dan 1 ruangan kelas terdapat 35 murid) . Jadi dana itu kalau dikalikan semuan totalnya adalah Rp. 1.129.500 per minggu = Rp. 4.518.000 per bulan.

Jadi dengan uang sebanyak itu, digunakan untuk apa uang tersebut? “Katanya” uang tersebut untuk gaji satpam. Nah, kita taroh gaji satpam Rp. 1.000.000 sebulan. Di sekolah “A” ada 3 satpam. Berarti Rp. 3.000.000 perbulan habis untk satpam, sisanya kemana?

Itu adalah sekian dari banyaknya pembangunan-pembangunan yang tidak penting di sekolah dan pembayaran yang terkesan di buat-buat. Dan akan sampai kapan murid selalu ditindas oleh kelakuan nakal gurunya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s